Lebaran
dengan Sampah?
Oleh:
Sayyidah Vina Syauqia
Idul Fitri
memang hari yang sangat dinantikan oleh umat Islam, dimana kita semua kembali
ke fitrah setelah sebulan penuh di bulan Ramadhan dibersihkan dari dosa dengan
berpuasa.
Malam hari
sebelum Idul Fitri, yang kita sebut dengan malam Takbiran, akan ramai dengan
kumandang takbir. Di Indonesia, sebagian umat Islam dengan berkelompok
berkeliling membawa obor sembari mengumandangkan takbir. Sedangkan sebagian
yang lain lebih memilih bersantai dengan tetap di rumah menonton acara
televisi, pergi ke alun-alun kota untuk jalan-jalan, menikmati pertunjukan
kembang api, berkumpul dengan kerabat dan membeli makanan. Malam itu semua
orang akan berbahagia menikmati semaraknya perayaan menjelang Idul Fitri. Tetapi apa yang terjadi dengan esok? Sampah
berserakan. Sampah basah sisa makanan, sampah kering dari bungkus makanan dan
sampah bahaya dari debu kembang api yang dinyalakan. Semua bercampur jadi satu.
Siapa yang dirugikan?
Yang
dirugikan adalah tanah, air dan udara. Ada tigakemungkinan yang terjadi. Pertama,
apabila sampah ditimbun, yang dirugikan adalah tanah. Tanah akan tercemar.
Kedua, apabila sampah dibakar, udara tercemar. Ketiga, apabila sampah dibuang
ke sungai, sungai akan tersumbat dan air akan tercemar. Dari ketiga kemungkinan
tersebut, sudah pasti kerugiannya juga berdampak pada kita, manusia sebagai
khalifah yang diwajibkan untuk menjaga bumi.
Lingkungan
yang rusak akan sangat merugikan. Selain lingkungan rusak, kerugian yang diterima
manusia dari menumpuknya sampah sudah pasti sangat banyak. Berbagai macam
penyakit mulai dari asma, flu, batuk, sesak napas, gatal-gatal, sakit perut,
muntah-muntah sampai keracunan. Virus yang menyebabkan berbagai penyakit dapat
dengan cepat berkembang dan manyebar dengan cepat dalam sampah, apalagi dalam
keadaan yang bertumpuk dan lembab. Kemudian virus tadi disebarkan oleh lalat,
sebagai salah satu contoh. Virus menempel pada kaki lalat dan bulu-bulu halus
di seluruh tubuhnya. Lalat ‘bervirus’ tersebut masuk ke pemukiman penduduk,
menempel di berbagai tempat, di makanan misalnya, meninggalkan virus kemudian
kita mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi tersebut. Kemudian virus
menyebar dan menyerang organ pencernaan kita dan yang paling cepat terjadi kita
akan diare. Salah satu lalat pembawa virus ini adalah Musca demostica atau yang sering
kita sebut dengan lalat rumah.
Upaya
untuk mengendalikan penupukan sampah harus dilakukan. Sampah dibagi menjadi dua
menurut kemampuan diurai oleh alam. Pertama, sampah Biodegredable. Sampah jenis ini adalah sampah yang dapat diuraikan
dengan sempurna melalui proses aerob dan anaerob. Pengendalian sampah jenis ini
dapat dilakukan dengan proses aerob dan anarob dengan mengubah sampah basah
menjadi kompos menggunakan komposer. Dan sampah Non-biodegredable, adalah sampah yang tidak dapat diuraikan oleh
proses biologi. Karenanya, yang dilakukan untuk mengendalikan sampah jenis ini
adalah dengan mendaur ulang. Sampah dapat didaur ulang menggunakan mesin-mesin
daur ulang, sehingga menjadi barang yang bisa diolah kembali.
Pengendalian
yang lain dilakukan dengan 3R yaitu Reuse
(menggunakan kembali), Reduce (mengurangi)
dan Recycle (mendaur ulang). Mari kita
lebih mencintai bumi dan tidak merusaknya dengan sampah.
