Senin, 19 Agustus 2013

Lebaran dengan Sampah?

Lebaran dengan Sampah?
Oleh: Sayyidah Vina Syauqia
 
          Idul Fitri memang hari yang sangat dinantikan oleh umat Islam, dimana kita semua kembali ke fitrah setelah sebulan penuh di bulan Ramadhan dibersihkan dari dosa dengan berpuasa.
          Malam hari sebelum Idul Fitri, yang kita sebut dengan malam Takbiran, akan ramai dengan kumandang takbir. Di Indonesia, sebagian umat Islam dengan berkelompok berkeliling membawa obor sembari mengumandangkan takbir. Sedangkan sebagian yang lain lebih memilih bersantai dengan tetap di rumah menonton acara televisi, pergi ke alun-alun kota untuk jalan-jalan, menikmati pertunjukan kembang api, berkumpul dengan kerabat dan membeli makanan. Malam itu semua orang akan berbahagia menikmati semaraknya perayaan menjelang Idul Fitri.  Tetapi apa yang terjadi dengan esok? Sampah berserakan. Sampah basah sisa makanan, sampah kering dari bungkus makanan dan sampah bahaya dari debu kembang api yang dinyalakan. Semua bercampur jadi satu. Siapa yang dirugikan?
          Yang dirugikan adalah tanah, air dan udara. Ada tigakemungkinan yang terjadi. Pertama, apabila sampah ditimbun, yang dirugikan adalah tanah. Tanah akan tercemar. Kedua, apabila sampah dibakar, udara tercemar. Ketiga, apabila sampah dibuang ke sungai, sungai akan tersumbat dan air akan tercemar. Dari ketiga kemungkinan tersebut, sudah pasti kerugiannya juga berdampak pada kita, manusia sebagai khalifah yang diwajibkan untuk menjaga bumi.
          Lingkungan yang rusak akan sangat merugikan. Selain lingkungan rusak, kerugian yang diterima manusia dari menumpuknya sampah sudah pasti sangat banyak. Berbagai macam penyakit mulai dari asma, flu, batuk, sesak napas, gatal-gatal, sakit perut, muntah-muntah sampai keracunan. Virus yang menyebabkan berbagai penyakit dapat dengan cepat berkembang dan manyebar dengan cepat dalam sampah, apalagi dalam keadaan yang bertumpuk dan lembab. Kemudian virus tadi disebarkan oleh lalat, sebagai salah satu contoh. Virus menempel pada kaki lalat dan bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya. Lalat ‘bervirus’ tersebut masuk ke pemukiman penduduk, menempel di berbagai tempat, di makanan misalnya, meninggalkan virus kemudian kita mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi tersebut. Kemudian virus menyebar dan menyerang organ pencernaan kita dan yang paling cepat terjadi kita akan diare. Salah satu lalat pembawa virus ini  adalah Musca demostica atau yang sering kita sebut dengan lalat rumah.
          Upaya untuk mengendalikan penupukan sampah harus dilakukan. Sampah dibagi menjadi dua menurut kemampuan diurai oleh alam. Pertama, sampah Biodegredable. Sampah jenis ini adalah sampah yang dapat diuraikan dengan sempurna melalui proses aerob dan anaerob. Pengendalian sampah jenis ini dapat dilakukan dengan proses aerob dan anarob dengan mengubah sampah basah menjadi kompos menggunakan komposer. Dan sampah Non-biodegredable, adalah sampah yang tidak dapat diuraikan oleh proses biologi. Karenanya, yang dilakukan untuk mengendalikan sampah jenis ini adalah dengan mendaur ulang. Sampah dapat didaur ulang menggunakan mesin-mesin daur ulang, sehingga menjadi barang yang bisa diolah kembali.
          Pengendalian yang lain dilakukan dengan 3R yaitu Reuse (menggunakan kembali), Reduce (mengurangi) dan Recycle (mendaur ulang). Mari kita lebih mencintai bumi dan tidak merusaknya dengan sampah.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Joget Cesar

TV lagi heboh-hebohnya Cesar dengan jogetannya, sumpah kocak. Mau liat Cesar joget? Nonton Yuk Kita Sahur Trans TV. Biasanya sih jam 4, hehe. Bukan ngiklan sih-_-
Cesar
Ada tutorial jogetnya nih:
Lumayan sih olahraga pagi-pagi, diet jam sahur soalnya energik banget. Kalo mau download musiknya search aja di Google :D