KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb
Segala
puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Yang telah banyak memberi nikmat
kepada kita, serta berkah rahmat dan hidayah-Nya. Dan Sholawat serta salam
semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Amin...
Alhamdulillahi robbil ‘alamin...
Dengan
penuh syukur terucap, kami penulis telah berhasil / telah selesai menyelesaikan
tugas Bahasa Indonesia menulis laporan
hasil wawancara yang berjudul “Sampah” yang insyaalloh sudah dikerjakan dengan
penuh ketelitian dan bimbingan dari guru pengampu, kami selaku penulis
mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Ismail yang telah bersedia
membantu kami dalam menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia ini.
Semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya, dan dapat digunakan sebagai
contoh untuk tugas adik-adik kelas berikutnya. Kiranya ada tutur kata dan
penulisan yang salah mohon dimaafkan.
Wassalamu’alaikum wr.wb
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Pembukaan
a. Latar Belakang
b. Profil
Narasumber
c. Data
Pertanyaan
d. Tujuan
BAB II Isi
a. Pengertian
Sampah
b. Hasil
Wawancara
c. Kesan dan
Pesan
d. Faktor
Penyebab
BAB III Penutup
a. Kesimpulan
b. Saran
BAB I
a. Latar Belakang
Dewasa ini,
siswa SMA A Wahid Hasyim Tebuireng yang ruang kelasnya terletak di sebelah
barat sering mengeluh tentang sampah di belakang sekolah. Menumpuknya sampah di
belakang sekolah menyebabkan bau tidak sedap yang menyengat. Mereka
mengelu-elukan bau sampah yang seringkali membuat mereka sakit kepala karena
tidak tahan dengan bau menyengat dari sampah. Bau sampah yang menyengat juga
sering mengganggu konsentrasi belajar saat KBM. Tidak jarang, guru yang
mengajar juga ikut mengeluh. Salah satu cara yang mereka lakukan untuk
menghindari bau sampah ini adalah dengan study
outdoor. Tetapi tentu saja hal ini tidak efektif. Udara di daerah Tebuireng
yang panas tentu membuat suasana belajar menjadi tidak nyaman.
Hal ini
yang membuat penyusun tergerak untuk melakukan wawancara dengan pihak terkait
maslah sampah yang menumpuk.
b. Profil
Narasumber
Pihak
yang kami jadikan narasumber adalah beliau, Bapak Mas’ud Fauzi. Rekan-rekan
kerja beliau lebih akrab memanggil dengan sebutan Pak Ji. Pak Ji dalam hal ini
bertanggung jawab atas bidang Pelaksana
Tunggal di lingkungan Pesantren Tebuireng yang mendapat tugas langsung dari
Ir. Abdul Ghofar yang bertindak sebagai Sekretariat
Pembangunan Pesantren.
Untuk
saat ini, Pak Ji dibebankan 2 tugas. Yang pertama, membangun gedung perkuliahan
tambahan untuk IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) dan proyek untuk
penguburan sampah yang menuai konflik, terutama untuk siswa di SMA A Wahid
Hasyim ini.
c. Data
pertanyaan
Sampah yang menumpuk menimbulkan
beberapa pertanyaan, sebagai berikut:
Apa yang dilakukan terhadap sampah
yang menumpuk itu ?
Mengapa sampah itu dipindah ke
belakang SMA A Wahid Hasyim ?
Siapa yang mempunyai ide dan
bertanggung jawab atas progam ini ?
Apakah sampah yang dikubur tidak akan merusak tanah ?
Akan dibuat apa tanah tersebut ?
Mengapa sampah yang ditutup hanya
setengah ?
Kapan program ini dimulai dan kapan
berakhirnya ?
Sampah ini didapatkan dari mana
saja ?
Dimana program ini dilaksanakan ?
Mengapa diadakan program ini ?
Apa keuntungan dari sampah ?
Kesulitan apa yang dihadapi dalam
program ini ?
Dari mana biaya program ini ?
Alat-alat apa yang dibutuhkan dalam
program ini ?
Sistem apa yang dilakukan dalam
program ini ?
Bagaimana dengan sampah yang masih
berserakan dijalan ?
d. Tujuan
Tujuan yang kami harapkan dari kegiatan wawancara ini
adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
penyebab penumpukan sampah;
2. Mengetahui
dari mana asal sampah-sampah tersebut;dan
3. Mengetahui
cara yang diambil pihak terkait untuk menuntaskan masalah penumpukan sampah
ini.
BAB II
a. Pengertian
Sampah
Sampah merupakan material sisa yang
tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat
keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya
tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah
dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan
manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah
dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.
Berdasarkan
sifatnya
1.
Sampah organik - dapat diurai (degradable)
2.
Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable)
1. Sampah Organik,
yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun
kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos; 2.
Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah
pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng,
kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah
yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik
yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas
bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;
Berdasarkan
bentuknya
Sampah adalah bahan
baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut
bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:
Sampah Padat
Sampah padat adalah
segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat
berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas
dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik
dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang
yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas,
potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting,
rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.
Berdasarkan kemampuan
diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:
1.
Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan
secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah
dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
2.
Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa
diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
o
Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan
kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian
dan lain-lain.
o
Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai
ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon
paper, thermo coal dan lain-lain.
Sampah Cair
Sampah cair adalah
bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke
tempat pembuangan sampah.
·
Limbah hitam: sampah cair
yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya.
·
Limbah rumah tangga: sampah cair
yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin
mengandung patogen.
Sampah dapat berada
pada setiap fase materi: padat, cair,
atau gas. Ketika
dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat
dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa
dikaitkan dengan polusi.
Dalam kehidupan
manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua
produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang
kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
untuk mencegah sampah
cair adalah pabrik pabrik tidak membuang limbah sembarangan misalnya membuang
ke selokan.
Sampah alam
Sampah yang diproduksi
di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami,
seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai
menjadi tanah. Di luar
kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun
kering di lingkungan pemukiman.
Sampah manusia
Sampah manusia
(Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap
hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah
manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan
sebagai vektor (sarana
perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu
perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan
penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk
didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah
manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa
air.
Sampah
Konsumsi
Sampah konsumsi
merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata
lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang
umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun
masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan
dan industri.
Limbah
radioaktif
Sampah nuklir merupakan
hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang
menghasilkan uranium dan thorium yang sangat
berbahaya bagi lingkungan hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir
disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas
tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang
namun kadang masih dilakukan).
b. Hasil
wawancara
Penumpukan
sampah, baik organik maupun anorganik yang terjadi ini disebabkan oleh
banyaknya konsumsi makanan. Pengonsumsi makanan ini utamanya berasal dari
lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng secara keseluruhan, baik dari Pondok
Putra, Pondok putri, SMA A Wahid Hasyim, MA Salafiyah Safi’iyah, SMP A Wahid
Hasyim, MTs Salafiyah Safi’iyah dan dari lingkungan pondok lain. Sampah-sampah
dari berbagai sumber itu dikumpulkan di satu tempat. Dan tempat yang dipilih
oleh pihak pembangunan adalah di belakang ponten
(toilet) yang ada di kawasan Pondok Pesantren Putri Tebuireng.


Gambar: penumpukan sampah di belakang ponten
Sampah yang
jumlahnya kian hari kian bertambah inilah yang menyebabkan bau busuk yang
menyengat hidung, utamanya mengganggu kegiatan yang diadakan di Pondok Putri.
Menurut pengakuan salah satu santri, bau busuk yang sangat menyengat ini
seringkali ikut mampir ke dalam kamar
yang tentunya para santri seringkali harus berlomba untuk menutup hidung ketika
masuk kamar, karena lokasi kamar yang berdekatan dengan tempat penumpukan
sampah tadi.
Sebenarnya
pihak UKLP (Unit Kebersihan Lingkungan Pesantren) tidak berniat melakukan
penumpukan sampah disitu. Mereka menargetkan sampah ini diangkut ke TPA (Tempat
Pembuangan Akhir) setiap hari oleh petugas dari PEMDA. Tetapi ternyata pihak
PEMDA selalu tidak sempat. Sehingga terjadilah penumpukan sampah yang
menyebabkan bau ini.
Pihak UKLP
sekarang bekerjasama dengan bagian Pembangunan untuk menyelesaikan masalah
penumpukan sampah. Bagian pembangunan yang dimandori
Pak Ji ini mendapat tugas langsung dari Sekretariat
Pembangunan Pesantren Tebuireng, yakni Ir. Abdul Ghofar untuk melakukan
penimbunan sampah dengan segera.
Pak Ji
mengomandani untuk melakukan penimbunan sampah yang berlokasi di sebelah barat
ponten atau tepatnya di belakang SMA.
Untuk
menyelesaikan program ini, Pak Ji membutuhkan tenaga sistem borongan yang membutuhkan 6 orang
pekerja yang bertugas sebagai operator, teknisi dan pengoperasian alat berat.
Alat berat
yang digunakan dalam program ini adalah Eskafator.
Eskafator berfungsi untuk mengeruk
tanah yang akan digunakan sebagai tempat untuk menimbun samaph. Pertama, Eskafator yang dioperasikan oleh satu
orang operator mesin mengeruk tanah sepanjang kurang lebih 20 meter dengan
dalam kurang lebih 5 meter.


Gambar: alat berat Eskafator
Kedua,
tanah yang dikeruk akan diisi sampah yang kemudian ditutup lagi oleh tanah.
Ketika ditanya bagaimana kondisi tanahnya, Pak Ji menjelaskan bahwa tanah yang
digunakan untuk menimbun sampah memang dari awal tidak direncanakan untuk
pertanian. Tanah milik Pesantren ini hanya akan digunakan untuk pembangunan.
Namun untuk membangun apa nantinya, bagian pembangunan belum mendapat tugas.
Yang terpenting, sudah melaksanakan penimbunan sampah yang kemudian akan
diserahkan kembali ke yayasan, tanah yang sudah diratakan yang berisi sampah
itu akan diapakan nantinya.
Di sebelah
lokassi penimbunan terdapat sepetak tanah milik warga yang digunakan untuk
bersawah. Nah, pihak yayasan sebenarnya ingin membeli tanah tersebut agar lebih
leluasa menggarap proyak penimbunan sampah. Tetapi warga pemilik tanah itu
belum mengijinkan pembelian tanah tersebut, sehingga terpaksa lokasi penimbunan
sampah berdekatan dengan petak sawah milik warga ini.
Pak Ji dan
teamnya mengusahakan sampah yang menumpuk seluruhnya dapat dengan segera
dikubur. Karena penumpukan sampah yang terus menerus dalam waktu yang lama akan
menimbulkan berbagi macam penyakit untuk orang disekitar tempat penampungan.
Sampah yang
saat ini di penampungan akan segera dikubur, sedangkan sampah yang selanjutnya
akan ada PEMDA yang mengambil sampah yang baru untuk langsung dikumpulkan di
TPA tanpa harus menumpuk lagi.
Program ini
akan terus dilakukan dan diusahakan secepat mungkin selesai karana tentunya hal
ini sangat mengganggu. Pak Ji menargetkan program yang dimulai tanggal 23 Maret
akan selesai dalam 2 minggu kedepan.
Selain
program penimbunan sampah, pernah tersiar kabar bahwa di sekitar lokasi
tersebut juga akan dibangun terminal.
Setelah
mendapat penjelasan dari Pak Ji, ternyata memang benar akan dibangun terminal
bis, tetapi lokasinya tidak persis di lokasi penimbunan sampak. Lokasi yag
digunakan adalah jalan di depan bekas peternakan yang lebih kearah barat lagi.
Lagipula, yang membangun terminal nantinya adalah PEMDA, bukan bagian
pembangunan pesantren tebuireng.
Biaya yang
digunakan untuk program ini murni dari yayasan.
c. Kesan dan
Pesan
Sebelum
mengakhiri wawancara, Pak Ji sempat memberikan kesan tentang pembangunan di Pesantren Tebuireng, “Pembangunan di
Pesantren Tebuireng berkembang baik dan standar.”
Pak Ji juga
menyampaikan pesan untuk santri Pondok Pesantren Tebuireng, “Buanglah sampah pada tempatnya.”


d. Faktor
Penyebab
1. Volume sampah
sangat besar dan tidak diimbangi oleh daya tampung TPA sehingga melebihi
kapasitasnya.
2. Lahan TPA semakin menyempit akibat tergusur untuk penggunaan lain.
3. Jarak TPA dan pusat sampah relatif jauh hingga waktu untuk mengangkut sampah kurang efektif.
4. Fasilitas pengangkutan sampah terbatas dan tidak mampu mengangkut seluruh sampah. Sisa sampah di TPS berpotensi menjadi tumpukan sampah.
5. Teknologi pengolahan sampah tidak optimal sehingga lambat membusuk.
6. Sampah yang telah matang dan berubah menjadi kompos tidak segera dikeluarkan dari tempat penampungan sehingga semakin menggunung.
7. Tidak semua lingkungan memiliki lokasi penampungan sampah. Masyarakat sering membuang sampah di sembarangan tempat sebagai jalan pintas.
8. Kurangnya sosialisasi dan dukungan pemerintah mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah serta produknya.
9. Minimnya edukasi dan manajemen diri yang baik mengenai pengolahan sampah secara tepat.
10. Manajemen sampah tidak efektif. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama bagi masyarakat sekitar.
2. Lahan TPA semakin menyempit akibat tergusur untuk penggunaan lain.
3. Jarak TPA dan pusat sampah relatif jauh hingga waktu untuk mengangkut sampah kurang efektif.
4. Fasilitas pengangkutan sampah terbatas dan tidak mampu mengangkut seluruh sampah. Sisa sampah di TPS berpotensi menjadi tumpukan sampah.
5. Teknologi pengolahan sampah tidak optimal sehingga lambat membusuk.
6. Sampah yang telah matang dan berubah menjadi kompos tidak segera dikeluarkan dari tempat penampungan sehingga semakin menggunung.
7. Tidak semua lingkungan memiliki lokasi penampungan sampah. Masyarakat sering membuang sampah di sembarangan tempat sebagai jalan pintas.
8. Kurangnya sosialisasi dan dukungan pemerintah mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah serta produknya.
9. Minimnya edukasi dan manajemen diri yang baik mengenai pengolahan sampah secara tepat.
10. Manajemen sampah tidak efektif. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama bagi masyarakat sekitar.
BAB III
a. Kesimpulan
Sampah telah menjadi masalah yang lumrah bagi semua orang
khususnya di kota kota besar. Semakin besar jumlah penduduk semakin meningkat
pula volume sampah yang ada karena sampah merupakan bahan padat buangan dari
kegiatan rumah tangga, pasar, perkantoran, industri dll. Dengan jumlah timbunan
sampah yang semakin meningkat dari tahun ke tahun dan tanpa penanganan
atau pengelolaan yang baik sampah kota akan menimbulkan berbagai masalah
serius baik dari segi sosial maupun lingkungan seperti wabah penyakit yang
ditimbulkan serta bau busuk yang membuat lingkungan kita tidak nyaman untuk ditinggali
Selama ini masayarakat selalu menanggapi masalah sampah dengan
sebelah mata, mereka membuang sampah dimana saja dan bukan pada tempatnya walau
kelihatan sepele tetapi sampah itu akan menjadi masalah yang sangat besar
contohnya banjir. Banjir yang terjadi di kota kota besar sangat merugikan
masyarakat, mereka kehilangan rumah, pekerjaan bahkan sanak saudara. Hal ini
bisa terjadi karena ulah masyarakat yang menggap sampah masalah yang sepele.
Karena hal itu, marilah kita jaga lingkungan kita dari timbunan
sampah dengan cara memilah sampah organik dan non organik lalu mendaur ulang
sampah menjadi barang yang bermanfaat sehingga lingkungan kita nyaman terbebas dari
timbunan sampah yang menganggu.
b. Saran
Produksi Bersih (Clean
Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang
bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang
berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk
dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Prinsip-prinsip
Produksi Bersih adalah prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam
keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:
·
Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material
yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak
sampah yang dihasilkan.
·
Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa
dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai,
buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi
sampah.
·
Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna
lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini
sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan
sampah menjadi barang lain.
·
Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah
barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan
lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah
lingkungan, Misalnya, ganti kantong kresek kita dengan keranjang bila berbelanja,
dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi
secara alami.

Galeri Foto

Salah satu
penyusun menyempatkan Pemulung
yang memanfaatkan
berfoto bersama mandor
sampah untuk mendapatkan penghasilan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar